CV Penerjemah, Perlu Dibuat Berbeda

Akhirnya, bisa menulis blog lagi setelah wira-wiri dengan urusan laptop ūüėÄ Kali ini, saya ingin menulis tentang membuat curriculum vitae (CV) yang menarik bagi penerjemah pemula, atau bagi yang sudah lama bergelut di bidang ini namun ingin merapikan CV-nya. Pembahasan ini saya rangkum dari diskusi Temu Komp@k¬†HPI¬†pada 9 Februari 2013, dengan tema “Sukses Membangun dan Beralih Karier Menjadi Penerjemah/Juru Bahasa”. Narasumbernya tiga penerjemah berjam terbang tinggi, yaitu Wiyanto Suroso, Claryssa Suci Fong, dan Dita Wibisono.

Oh ya, Temu Komp@k kali ini istimewa, karena diadakan bertepatan dengan Peringatan HUT HPI Ke-39. Selain membahas tema di atas, Temu Komp@k ini juga menandai peluncuran Direktori Penerjemah/Juru Bahasa Indonesia, serta pengukuhan Penerjemah Bersertifikasi Nasional. Laporan pandangan mata acara ini sudah ditulis dengan apik oleh Mba Dina Begum di sini.

Kembali ke masalah CV penerjemah. Ketiga narasumber sependapat bahwa salah satu cara membangun karier sebagai penerjemah adalah membuat curriculum vitae (CV) atau resume sebagai alat pemasaran. Tidak bisa dipungkiri, promosi dari mulut ke mulut juga penting. Tetapi sebagai langkah awal, membuat CV yang baik sangat diperlukan.

Continue reading

Advertisements