Refleksi 2016: Berburu yang Bukan Buku

Dari sekian banyak “resolusi” saya untuk tahun 2016, mungkin berburu proyek penerjemahan nonbuku menempati tempat teratas.

Bukan rahasia lagi, tarif penerjemahan nonbuku lebih menjanjikan ketimbang buku. Tapi keinginan saya mencemplung di nonbuku justru karena saya cinta sekali penerjemahan buku. Dalam bayangan saya, idealnya dengan mengerjakan dokumen yang secara ekonomi lebih menguntungkan, saya akan bisa lebih berkonsentrasi saat menerjemahkan buku dan menyuguhkan hasil terbaik kepada pembaca.

Karena itulah, selama tahun 2016 waktu saya cukup tersita untuk mencari klien di luar penerbit buku. Akibatnya, performa saya menurun, “hanya” menggarap tujuh buku, 4 editan dan 3 terjemahan, lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tulisan berikut ini sama sekali bukan tentang tips mencari klien agensi penerjemahan (untuk selanjutnya disebut agensi saja), karena untuk itu masih banyak yang harus saya pelajari. Di sini saya hanya ingin berbagi apa saja yang sudah saya kerjakan selama ini.

Continue reading

Berbagi Cerita Penerjemahan dengan Siswa SMA

photo (3)
Suasana workshop dasar penerbitan dan penerjemahan.

Pekan lalu, tepatnya 7 Desember, saya diajak Muthia Esfand (editor Fantasious) mengisi workshop dasar penerbitan dan penerjemahan bagi siswa kelas 10 dan 11 Sekolah HighScope Indonesia. Saya langsung oke karena kesempatan memperkenalkan dunia penerjemahan kepada siswa SMA terbilang jarang, meski mendadak jiper saat tahu pesertanya 130 orang. Tapi nggak apa-apa, hitung-hitung sekalian melatih public speaking saya yang masih amburadul 😛

Workshop berlangsung sekitar dua jam. Muthia menyampaikan sekelumit proses penerbitan buku (sekelumit, karena model belajar di sekolah ini tidak membebani siswa dengan banyak teori sehingga kami hanya diberikan waktu masing-masing lima menit, yaay!), saya tentang dasar penerjemahan, dan sisanya diisi latihan menerjemahkan. Bahannya saya comot dari sana-sini, ngubek-ngubek berbagai buku, tapi paling banyak mengambil dari pengalaman sendiri. Untuk materi latihan, kami memutuskan menggunakan novel remaja yang pernah saya terjemahkan untuk Fantasious, The Darkest Minds. Satu halaman saja (sekitar 500 kata), supaya bisa dikerjakan dalam setengah jam.

Acara dimulai pukul 09.30. Saat kami masuk ke Black Box Theatre yang menjadi tempat acara, para siswa telah dibagi dalam sepuluh kelompok, masing-masing didampingi satu guru, untuk keperluan latihan menerjemahkan.

Kemudian, dengan infografis sederhana agar dipahami siswa, Muthia memaparkan proses penerbitan buku, baik lokal maupun terjemahan, mulai dari menyusun tema hingga akhirnya tiba di tangan pembaca. Sebagian siswa sepertinya cukup berminat. Mungkin kapan-kapan perlu dibuatkan workshop melihat langsung dapur penerbit 😀

Continue reading

Jempalitan Bersama Wordfast

ID-10069297

Awalnya, saya tidak tertarik pada Wordfast, salah satu CAT Tools alias perangkat lunak komputer untuk membantu penerjemah. Saya sering mendengar tentang Wordfast dari berbagai posting dalam milis bahtera, tapi tidak merasa membutuhkannya. Akhirnya, tahun lalu, saya dan beberapa teman penerjemah berkumpul untuk belajar Wordfast bareng mba Dina.

Saat itu saya masih blank. Tapi secara garis besar, saya mengerti Wordfast bukan tongkat sihir yang sekonyong-konyong mengubah teks sumber menjadi terjemahan. Bukan berarti setelah mengetikkan kalimat, kita tinggal duduk manis menunggu terjemahan muncul dengan sendirinya. Kita tetap menerjemahkan seperti biasa, dan Wordfast berperan mengumpulkan memori kata atau kalimat yang pernah diterjemahkan. Jika kalimat tersebut muncul lagi, Wordfast akan mengingatkan bahwa kalimat itu pernah diterjemahkan.

Sepulang pertemuan, saya langsung mengubek-ubek blog yang membahas Wordfast. Dalam tulisan “Si Katul dalam Penerjemahan Novel“, Mba Dina membahas kegunaan perangkat ini untuk menerjemahkan novel, terutama jika bertemu istilah-istilah yang menjelimet. Tulisan Nui “Sedikit Gambaran tentang Wordfast Classic” sangat sering saya buka karena banyak memuat istilah teknis yang penting bagi saya yang masih awam. Dari blog Nui, saya menemukan tautan ke blog mas Wiwit, penerjemah yang sudah lama menekuni CAT Tools. Dalam artikelnya yang ditulis dalam beberapa bagian, mas Wiwit memuat langkah demi langkah memasang dan menggunakan Wordfast Classic.

Continue reading