Di Balik Penyuntingan “A Game of Thrones”

IMG_3941

Jika biasanya saya diorder penerbit, untuk penyuntingan terjemahan A Game of Thrones (GoT) sayalah yang mengajukan diri. Awalnya karena animo pembaca yang begitu membeludak saat tahu buku pertama seri novel fantasi A Song of Ice and Fire karya George R.R Martin ini akan diterbitkan Fantasious. Sejujurnya, saya ingin sekali terlibat penggarapan buku unggulan ini. Kedua, karena kebetulan saya tahu penerjemahnya teman saya Barokah Ruziati (Uci), yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan saya. Saya selalu belajar banyak dari terjemahannya. Alhamdulillah, Muthia Esfand, editor Fantasious, setuju.

Meski begitu, atas pertimbangan tertentu, penerbit memutuskan tidak menyerahkan seluruh proses penyuntingan GoT kepada saya. Saya mendapat sepertiga awal buku, sisanya disunting editor in-house Fantasious sendiri. Dengan penyuntingan model begini, alhamdulillah buku bisa lebih lekas terbit.

Sejak awal Muthia sudah mengatakan bahwa penerjemahan GoT akan melibatkan Westeros Indonesia, komunitas penggemar seri novel fantasi ini, sebagai pembaca pruf. Westeros ID juga meminta Fantasious menunjuk penerjemah dan penyunting yang pernah membaca buku ini. Permintaan yang sangat dimengerti, mengingat terjemahan sebaiknya dipegang oleh orang yang menguasai materi.

Continue reading

Advertisements

A GAME OF THRONES

game of thrones

Judul asli: A Game of Thrones
Penulis: George R.R. Martin
Penerbit: Fantasious
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penyunting: Lulu Fitri Rahman & Tim Redaksi Fantasious
Pemeriksa Aksara: Westeros Indonesia
Cetakan: I, Maret 2015
Tebal: 948 halaman
ISBN: 9786020900292

Continue reading

Ramai-ramai Menggarap “The Darkest Minds”

blog-1
The Darkest Minds
, buku kesatu trilogi dengan judul yang sama karya Alexandra Bracken, bukanlah serial fantasi remaja pertama yang saya terjemahkan. Tapi buku ini cukup berkesan bagi saya, karena dalam penerjemahannya mau tak mau saya harus berdiskusi dengan beberapa orang, terutama Linda Boentaram, penerjemah buku keduanya. Pengerjaan kedua buku ini memang nyaris simultan.

Alexandra Bracken, penulis seri The Darkest Minds
Alexandra Bracken
Sumber: http://www.goodreads.com/

Awalnya saya sempat kurang yakin karena jadwal yang diatur penerbit cukup ketat. Tetapi setelah membaca sepintas bukunya, saya langsung jatuh cinta. Idenya amat menarik tentang ketakutan orang dewasa terhadap “penyakit” yang menimpa anak-anak dan akibatnya mereka mengurung anak-anak mereka sendiri di kamp untuk “direhabilitasi”. Ruby mungkin bukan tokoh favorit saya, tapi saya sangat senang tek-tok antara kedua sahabat yang ditemukannya dalam petualangan ini, Liam dan Chubs. Selain itu, gaya bercerita Bracken sangat mengalir dan mudah dinikmati. Saya pun memutuskan menerima pekerjaan ini.

Dalam prosesnya, saya chatting berkali-kali dengan Linda. Biasanya pembahasan kami seputar penyeragaman istilah, mulai dari yang memang ada di dunia nyata sampai istilah fiktif bikinan si penulis sendiri, serta selingkung penerbit. Ternyata diskusi tidak berlangsung sampai di situ. Begitu masuk tahap penyuntingan, Muthia Esfand, editor Fantasious yang bertanggung jawab atas buku ini, memperkenalkan saya kepada Abduraafi Andrian, yang akan mengeditnya. Proses diskusi berlanjut di dunia maya, kali ini ditambah Muthia dan Raafi, plus Silvero, editor untuk buku keduanya. Ramai dan seru!

Continue reading