ENGLISH-INDONESIAN SAMPLE TRANSLATIONS

1 | ARCHITECTURE

Source text Translation
Building construction may be divided basically into two types: frame construction and loadbearing wall construction. Loadbearing walls can be of masonry, wooden logs, or a number of other materials such as mud or blocks of ice as in the houses of the Inuit (commonly but incorrectly known as igloos). Even the most humble materials have been used to create buildings with loadbearing walls of great power and beauty. Pada dasarnya ada dua macam konstruksi bangunan: konstruksi rangka dan konstruksi dinding pemikul beban. Dinding pemikul beban bisa berupa bata, batang kayu, atau material lain seperti lumpur atau balok es pada rumah kaum Inuit (yang meski keliru, secara umum dikenal sebagai igloo). Material paling sederhana pun pernah digunakan untuk bangunan dengan dinding pemikul beban yang sangat kokoh dan indah.
Loadbearing walls, as their name implies, are designed to carry their own weight and also the weight of the rest of the building. The weight of floors or roofs may exert pressures which can cause the walls to collapse by crushing, buckling or leaning outwards. The thickness of a wall needs to be related to the capacity to resist crushing from the weight bearing down on it (compression) or buckling which results from a lack of stiffness in the wall. High walls may need buttresses (projections from the walls which give additional strength and support) or great thickness to prevent buckling. Sesuai namanya, dinding pemikul beban dirancang untuk menopang bebannya sendiri serta beban seluruh bangunan. Beban lantai atau atap bisa memberikan tekanan yang membuat dinding retak, tertekuk, atau miring. Ketebalan dinding perlu disesuaikan dengan kapasitasnya agar dinding tidak retak karena tekanan beban (kompresi) atau tertekuk akibat dinding yang kurang kaku. Dinding tinggi mungkin membutuhkan buttress (tonjolan di dinding sebagai kekuatan dan topangan tambahan) atau dibuat sangat tebal agar tidak tertekuk.
In a frame construction it is the frame that carries the weight of the building. Frames may be of wood, as in medieval timber frame houses and barns, or of iron, steel or reinforced concrete. The weather is kept out either by infilling between the frame or by hanging a skin of glass or other material onto itu. This latter is known as a curtain wall. To withstand lateral forces such as wind, either the joints between vertical and horizontal members have to be rigid, as they are in reinforced concrete frames, or bracing or stiffening of the structure is required. Dalam konstruksi rangka, rangka itulah yang menopang beban bangunan. Rangka bisa dari kayu, seperti pada rumah atau lumbung khas abad pertengahan, atau dari besi, baja, dan beton bertulang. Kondisi cuaca diantisipasi dengan menempatkan material pengisi di antara rangka, atau memasang pelapis kaca atau bahan lainnya. Untuk yang terakhir istilahnya dinding tirai. Untuk menahan gaya lateral semacam angin, sambungan antara batang-batang vertikal dan horizontal harus kaku, seperti dalam rangka beton bertulang, atau strukturnya perlu diperkuat dengan ikatan.

2 | BIOGRAPHY

Source text

Translation

Today, the Republic of Korea (or South Korea) boasts the 13th-largest economy in the world. It produces cell phones and semiconductors and builds giant ships and luxury cars, along with the world’s tallest skyscrapers and longest bridges. Its athletes, artists, musicians, and scientists are renowned throughout the world. Saat ini, Republik Korea (atau Korea Selatan) membanggakan diri sebagai kekuatan ekonomi terbesar ke-13 di dunia. Negara kami memproduksi telepon seluler dan semikonduktor, membangun kapal raksasa dan mobil mewah, serta pencakar langit tertinggi dan jembatan terpanjang di dunia. Para atlet, seniman, musisi, dan ilmuwannya diakui di seluruh dunia.
These remarkable achievements happened during the last sixty years, all while South Korea was struggling with North Korea. People have tried to explain this phenomenon. How did this tiny nation, which has been brutally colonized by one of its neighbors for close to forty years and ravaged by a devastating war, manage to become what it is today? Ask any number of people and you will get as many different answers, none of them right or wrong. This book is an attempt to create a small part in this giant and colorful mosaic that the Korean people have been collectively making for the last sixty years. I was privileged to have the opportunity to take part in this epic journey. Pencapaian luar biasa ini terjadi selama enam puluh tahun terakhir, ketika Korea Selatan berperang dengan Korea Utara. Banyak orang yang sulit memahami fenomena ini. Bagaimana mungkin negara kecil, yang selama hampir empat puluh tahun dijajah salah satu negara tetangganya dan luluh lantak karena perang, berhasil menjadi sosoknya yang sekarang? Jawabannya akan berbeda-beda, dan tak ada yang benar atau salah. Buku ini hanya upaya menjadi bagian kecil mosaik raksasa penuh warna yang telah disusun rakyat Korea selama enam puluh tahun terakhir. Aku tersanjung memiliki kesempatan menjadi bagian perjalanan epik ini.
I spent twenty-seven years of my life at Hyundai, helping to transform a small local construction firm into a global corporation employing 170,000 people worldwide, with an annual revenue of more than $40 billion. As a thirty-five-year-old CEO, I roamed the world, from the deserts of Saudi Arabia, to the jungles of Thailand, to the Siberian tundra, seeking new opportunities and opening up new frontiers. I met with visionaries and statesmen as well as strongmen and dictators. Back home, I had to deal with an authoritarian regime, which was not only challenging but, at times, dangerous. Once I was almost killed in a distant land by a mob trying to rob our office. Aku bekerja untuk Hyundai selama 27 tahun, turut mengubah perusahaan konstruksi lokal menjadi korporasi global yang mempekerjakan 170.000 orang di seluruh dunia, dengan pendapatan tahunan lebih dari 40 miliar dolar. Setelah menjadi CEO pada usia 35 tahun, aku berkeliling dunia, dari gurun Arab Saudi, hutan Thailand, hingga tundra Siberia, mencari peluang baru dan membuka pasar baru. Aku bertemu banyak visioner dan negarawan, begitu pula tiran dan diktator. Di negeri sendiri, aku harus berhadapan dengan rezim otoriter, yang tidak hanya menantang, tetapi terkadang juga berbahaya. Aku pernah nyaris tewas ketika segerombolan orang berniat merampok kantor kami.

3 | FICTION

Source text

Translation

In the neighborhood of Lower Manhattan called Little Syria, not far from where the Golem came ashore, there lived a tinsmith by the name of Boutros Arbeely. Arbeely was a Maronite Catholic who’d grown up in the bustling village of Zahleh, which lay in the valley below Mount Lebanon. He had come to adulthood at a time when it seemed every man under the age of thirty was leaving Greater Syria to seek his fortune in America. some were spurred on by missionaries’ tales, or by relatives who’d made the journey and whose letters home now arrived thick with banknotes. Others saw a chance to elude the army conscription and punishing taxes demanded by their Turkish rulers. In all, so many left that in some villages the markets fell silent, and the grapes on the hillsides were left to burst on the vines. Di lingkungan Lower Manhattan yang disebut Little Syria, tak jauh dari tempat pendaratan sang Golem, hiduplah tukang patri bernama Boutros Arbeely. Arbeely adalah penganut Katolik Maronit yang tumbuh besar di Desa Zahleh yang sibuk dan terbentang di lembah Gunung Lebanon. Ketika dia dewasa, sepertinya setiap pria berusia di bawah tiga puluh meninggalkan Greater Syria untuk mencari kekayaan di Amerika. Sebagian terpikat oleh cerita misionaris, atau kerabat yang hijrah ke sana dan mengirim surat penuh berisi uang kertas ke kampung halaman. Sebagian lagi menganggapnya sebagai peluang untuk menghindari wajib militer serta pajak tinggi yang dibebankan penguasa Turki. Secara keseluruhan, begitu banyak yang pergi sehingga di beberapa desa pasarnya sepi, dan anggur di bukit dibiarkan melimpah ruah.
Arbeely’s late father had come from a family of five brothers, and over the generations their land had been divided and redivided until each brother’s parcel was so small it was hardly worth the effort of planting. Arbeely himself made barely a pittance as a tinsmith’s apprentice. His mother and sister kept silkworms to bring in extra money, but still it wasn’t enough. In the general rush to America, Arbeely saw his chance. He bid his family farewell and boarded a steamship bound for New York, and soon had rented a small smithing shop on Washington Street, at the heart of the growing Syrian neighborhood. Mendiang ayah Arbeely berasal dari keluarga berputra lima, dan selama beberapa generasi tanah mereka terus dipilah sampai bagian setiap putra begitu kecil sehingga nyaris tak layak ditanami. Arbeely sendiri mendapat upah yang sangat kecil sebagai magang di tempat tukang patri. Ibu dan saudara perempuannya memelihara ulat bulu untuk menghasilkan uang tambahan, namun tetap saja tidak cukup. Dalam migrasi besar-besaran ke Amerika, Arbeely melihat peluangnya. Dia berpamitan kepada keluarganya dan naik kapal uap menuju New York, dan tak lama kemudian menyewa bengkel kecil di Washington Street, di jantung lingkungan warga Suriah yang berkembang.
Arbeely was a good and conscientious worker, and even in New York’s crowded marketplace his goods stood out as quality for the price. He made cups and plates, pots and pans, household tools, thimbles, candlesticks. Occasionally a neighbor would bring him something to repair, a damaged pot or a twisted door hinge, and he would return it in better shape than when it was new. Arbeely pekerja yang bagus dan teliti. Bahkan di pasar New York yang penuh sesak, barang-barangnya menonjol karena berkualitas. Dia membuat cangkir dan piring, panci dan periuk, perkakas rumah tangga, bidal, kandil. Kadang-kadang tetangganya datang membawa barang untuk diperbaiki, panci yang penyok atau engsel pintu yang bengkok, dan dia akan mengembalikannya dalam kondisi yang lebih baik daripada ketika barang itu masih baru.
Advertisements