9 Blog Penerjemahan yang Wajib Dikunjungi

Pada masa awal karier saya sebagai penerjemah sekitar tahun 2005, informasi mengenai penerjemahan kebanyakan saya dapatkan dari milis Bahtera. Seingat saya, saat itu blog belum menjamur seperti sekarang. Memang ada situs jejaring sosial semacam Multiply, tetapi yang membahas khusus penerjemahan saya rasa saat itu masih jarang.

Syukurlah sekarang informasi lebih mudah didapat. Banyak penerjemah yang membuat blog untuk menuliskan pengalaman mereka. Bagaimana jatuh-bangunnya mereka sebelum menjadi seperti sekarang. Atau strategi mereka dalam mencari klien. Atau membagi kiat-kiat meluweskan kalimat supaya tidak berasa terjemahan.

Sebagai blogger, saya menyadari betapa sulitnya mempertahankan blog supaya terus diisi. Terkadang lantaran jenuh atau sibuk, mengisi blog tidak lagi menjadi prioritas. Saat meramban blog penerjemahan berbahasa Indonesia, terkadang saya sedih sendiri karena blog yang saya temukan sudah lebih dari setahun tidak di-update. Alhamdulillah di tengah kelesuan, masih ada beberapa blog penerjemahan yang tetap setia memperbarui tulisannya. Berikut ini 9 blog di antaranya yang saya urutkan berdasarkan abjad.

Continue reading

Advertisements

Wajah Baru Blog Penerjemah Buku

A good blog is seriously time-consuming to maintain, but an excellent showcase for an individual translator’s writing style. What better way to reinforce your brand in sometimes crowded market? (The Prosperous Translator, ed. Chris Durban, 2010)

Setelah lebih dari dua bulan terbengkalai, ditambah pening kepala selama berhari-hari, akhirnya lamfaro.com tampil dengan wajah baru.

Ide perombakan muncul setelah saya melihat blog ini cukup sering diakses. Mungkin lantaran beberapa tulisan kerap dijadikan tautan, terutama CV Penerjemah, Perlu Dibuat Berbeda yang sudah ditengok 4410 kali sejak diterbitkan. Dalam acara diskusi dengan tim peneliti dari Universitas Negeri Semarang beberapa waktu lalu, saya diberitahu bahwa kontak saya diperoleh dari salah satu mahasiswa yang rupanya pembaca blog ini. Saya juga sempat dihubungi calon klien yang mengontak saya setelah melihat-lihat profil saya di laman sihapei dan blog ini.

Dari situ saya berpikir, dengan segala keterbatasannya, blog bisa dioptimalkan sebagai tempat “jualan” dan dibuat seperti situs web. Apalagi sekarang saya berniat merambah penerjemahan bidang lain, terutama arsitektur, sesuai disiplin ilmu yang saya geluti sebelum menjadi penerjemah.

Continue reading

Diskusi Penerjemahan Novel: Kala Teori dan Praktik Bertemu

buat blog-2
Para peserta FGD tentang penerjemahan novel bersama tim dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, 30 Mei 2015 (ki-ka): Arif Suryo, Rudi Hartono, Dina Begum, saya, Eka Budiarti, Ayu Pujiastuti, Istiani Prajoko, Meggy Soedjatmiko, Krismariana Widyaningsih.

Hari Sabtu yang lalu (30/5), saya dan beberapa teman penerjemah buku diundang mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama tim dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang diketuai Dr. Rudi Hartono, pengajar kelas Translation di jurusan tersebut. Ibu Istiani Prajoko, penerjemah yang sudah menerjemahkan lebih dari 100 buku, dengan baik hati memfasilitasi FGD ini, sekalian syukuran kediaman barunya di Bekasi.

FGD ini diadakan untuk mencari masukan tentang penerjemahan novel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Sebelum diskusi dimulai, kami diminta mengisi angket. Secara umum pertanyaannya tentang kesulitan yang kami hadapi saat menerjemahkan novel, bagaimana cara mengatasinya (apakah cukup googling, atau sampai bertanya kepada penulis novel jika masih hidup). Intinya, tim peneliti ingin mencari tahu tentang penerjemahan novel dari kacamata praktisi.

Setelah mengisi angket, barulah kami berdiskusi, atau lebih tepatnya mengobrol santai. Pak Rudi dan rekan timnya Mas Arif Suryo tampak antusias mendengar cerita kami, karena secara umum dunia praktik cukup berbeda dengan teori. Di sisi lain, banyak teori penerjemahan yang jarang kami dengar, meski tanpa sadar sudah kami terapkan saat menerjemahkan.

Continue reading

Di Balik Penyuntingan “A Game of Thrones”

IMG_3941

Jika biasanya saya diorder penerbit, untuk penyuntingan terjemahan A Game of Thrones (GoT) sayalah yang mengajukan diri. Awalnya karena animo pembaca yang begitu membeludak saat tahu buku pertama seri novel fantasi A Song of Ice and Fire karya George R.R Martin ini akan diterbitkan Fantasious. Sejujurnya, saya ingin sekali terlibat penggarapan buku unggulan ini. Kedua, karena kebetulan saya tahu penerjemahnya teman saya Barokah Ruziati (Uci), yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan saya. Saya selalu belajar banyak dari terjemahannya. Alhamdulillah, Muthia Esfand, editor Fantasious, setuju.

Meski begitu, atas pertimbangan tertentu, penerbit memutuskan tidak menyerahkan seluruh proses penyuntingan GoT kepada saya. Saya mendapat sepertiga awal buku, sisanya disunting editor in-house Fantasious sendiri. Dengan penyuntingan model begini, alhamdulillah buku bisa lebih lekas terbit.

Sejak awal Muthia sudah mengatakan bahwa penerjemahan GoT akan melibatkan Westeros Indonesia, komunitas penggemar seri novel fantasi ini, sebagai pembaca pruf. Westeros ID juga meminta Fantasious menunjuk penerjemah dan penyunting yang pernah membaca buku ini. Permintaan yang sangat dimengerti, mengingat terjemahan sebaiknya dipegang oleh orang yang menguasai materi.

Continue reading

“The Golem and the Jinni”, Kesempatan Setelah Tujuh Tahun

buat blog-1 - Copy

Sewaktu pertama kali ditawari menerjemahkan novel The Golem and the Jinni karya Helene Wecker, saya teringat pengalaman beberapa tahun silam. Waktu itu saya masih piyik, dan iseng melamar sebagai penerjemah lepas Gramedia. Tanpa persiapan memadai, saya gagal.

helene wecker 02
Sampul asli “The Golem and the Jinni” yang diterbitkan oleh Harper Collins (sumber foto: HarperCollins).

Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada akhir 2013, Mba Dini Pandia menawarkan penerjemahan buku kepada saya. Saat itu saya baru mulai mengedit untuk Gramedia. Lagi kangen-kangennya menerjemahkan, eh kesempatan kedua itu datang. Alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan tugas tersebut, yaitu The Golem and the Jinni yang sekarang sudah beredar, meski sempat deg-degan karena mulur sampai dua bulan dari tenggat 😛

Bukunya sendiri mengisahkan dua makhluk yang berbeda. Chava adalah golem, sedangkan Ahmad berasal dari kaum jin. Karena merasa terasing di dunia manusia, mereka menjalin persahabatan yang membuat mereka kerap menjelajahi New York di waktu malam sambil bertukar pikiran. Sementara itu, tanpa disadari keberadaan mereka sebenarnya terancam. Buat saya, ceritanya unik dan menyentuh.

Continue reading

Wordfast Classic untuk Menerjemahkan Novel

P1050586

Ternyata sudah dua tahun saya mengenal Wordfast Classic (WFC), CAT Tool atau perangkat lunak komputer untuk membantu penerjemahan (baca: Jempalitan Bersama Wordfast). Saya tidak selalu bekerja dengan perangkat ini, karena penerbit lebih sering memberikan teks asli berupa hardcopy. Tapi, jika kebetulan mendapat teks asli softcopy, saya memanfaatkan WFC untuk berlatih.

Selama ini saya masih memakai WFC gratisan, yaitu versi demo yang bisa diunduh di situs webnya. Tapi saya sangat menganjurkan kepada teman-teman penerjemah yang kurang puas dengan versi demo, atau punya kelebihan dana, untuk membeli Wordfast (atau CAT Tool jenis lain). Bagaimanapun, TM (Translation Memory) dalam versi demo hanya dibatasi 1000 unit. Begitu angka ini tercapai, pengguna akan diminta membuat TM baru.

Ada yang berpendapat CAT Tool kurang terasa manfaatnya dalam penerjemahan novel. Mungkin ini ada benarnya, tapi saya pribadi lumayan terbantu dengan WFC, bahkan dengan versi demonya. Karena WFC dirancang sebagai add-on Microsoft Word, penampilannya tidak rumit penuh kotak seperti CAT Tool lain. Jadi, bagi pemula seperti saya, WFC tidak terlalu mengintimidasi.

Continue reading