THE MONK WHO SOLD HIS FERRARI


the monk
Judul asli: The Monk Who Sold His Ferrari: A Remarkable Story About Living Your Dreams
Penulis: Robin Sharma
Penerbit: Kaifa (Mizan Pustaka)
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Rini Nurul Badariah & Indradya SP
Proofreader: M. Eka Mustamar
Cetakan: I, September 2014
Tebal: 236 halaman
ISBN: 9786027870611

Ringkasan

Banyak orang menyukai cerita, dan ini adalah salah satu cerita yang indah. Tokoh dalam kisah ini adalah Julian Mantle, seorang pengacara kelas atas dengan jadwal kerja superpadat dan kadar spiritual menyedihkan.

Pada suatu hari, ia terkena serangan jantung di ruang sidang. Hal itu membuatnya mendapatkan jeda untuk merenung dalam kehidupannya yang sibuk. Akhirnya ia memutuskan menjual semua harta bendanya, lalu melakukan perjalanan ke India, mencari pemahaman akan kehidupan yang lebih bermakna. Ketika kembali, ia menjadi orang yang sangat berbeda.

The Monk Who Sold His Ferrari adalah kisah luar biasa dan inspiratif. Dalam perjalanan sang tokoh, ia bertemu dengan banyak pandita dan guru. Pengalaman tersebut membuatnya mendapatkan banyak nasihat dan pelajaran spiritual yang sangat berharga. Robin Sharma mengisahkannya dengan memukau dalam buku ini.

Pujian

“Sensasional. Buku ini akan menjadi berkah dalam kehidupan Anda.” 
—Mark Victor Hansen, penulis Chicken for the Soul

“Kisah yang memikat. Mengajarkan banyak hal sekaligus menghibur.” 
—Paulo Coelho, penulis The Alchemist

Advertisements

6 thoughts on “THE MONK WHO SOLD HIS FERRARI

  1. Bikin sinopsis itu susah:D Ini petikan sinopsis yang kutulis dan belum sukses merebut hati penerbitnya:
    Dengan bahasa yang menyentuh, Robin Sharma mengungkapkan pengalaman seseorang yang tersadar bahwa pencapaian besar bukan berarti mengesampingkan hal-hal yang tampak kecil. Justru yang sepele dan terlihat sederhana itu lebih sukar ditempuh, lebih sukar pula menyalakan kemauan untuk bergerak sedikit. Boleh jadi pesan-pesannya pernah kita temukan di suatu tempat, dari mulut orang lain. Namun perubahan tak berarti harus ekstrem, sebagaimana dipaparkan dalam beberapa contoh di buku ini.
    “Jangan menjadi tahanan masa lalu, jadilah arsitek masa depan.”

    1. Beneeer. Memang paling susah membuat sinopsis yang tujuannya merebut hati pembaca (dan anggaplah penerbit yang paling tahu tentang pembaca). Kadang-kadang yang sulit, jangan sampai bikin spoiler di sinopsis 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s