[Ulasan] Found in Translation


found-1

“As long as human beings speak different languages, the need for translation will continue.”

Sewaktu saya memutuskan terjun sepenuhnya menjadi penerjemah lepas, banyak orang yang menganggap saya nekat. Bisa kerja apa saya jadi penerjemah? Bahkan ada yang heran, memangnya penerjemah itu profesi? Saat itu saya pun sempat bimbang, apalagi setahu saya dunia penerjemahan itu hanya meliputi buku dan buku.

Namun, setelah berkenalan dengan banyak teman penerjemah, penerjemahan tidak melulu tentang buku. Begitu beragam profesi penerjemah, karena pada dasarnya penerjemahan dan penjurubahasaan (interpreter) muncul dalam banyak aspek kehidupan kita. Tema inilah yang diangkat Found in Translation, buku karya Nataly Kelly dan Jost Zetzsche, keduanya penerjemah yang telah berkiprah hampir dua puluh tahun.

Dalam buku ini, kita akan menemukan banyak contoh profesi penerjemah dan juru bahasa. Beberapa bahkan baru saya dengar, seperti pengalaman Nataly Kelly sendiri sebagai juru bahasa layanan 911 di AS. Kelly harus selalu siap dibangunkan tengah malam untuk menerjemahkan percakapan warga yang sedang melaporkan bahaya kepada petugas 911. Atau penerjemah surat cinta, profesi yang ditekuni Tetsu Nakama sejak berakhirnya Perang Dunia II, ketika terjadi banyak hubungan asmara antara serdadu AS dan wanita Jepang. Atau juru bahasa pribadi, seperti kisah Colin Pine yang bekerja untuk Yao Ming, pemain basket NBA asal RRC yang menganggap Pine lebih dari sekadar juru bahasa.

Yang membuat saya kagum pada para penerjemah dan juru bahasa dalam buku ini, mereka sangat mencintai pekerjaan mereka dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Aida Marcuse, penerjemah buku anak berpengalaman yang telah menggarap lebih dari lima puluh buku, kerap berkonsultasi dengan putrinya demi memperoleh terjemahan puisi yang pas bagi anak-anak. Menurut Marcuse, salah satu kiat sukses menerjemahkan buku anak adalah meminta anak membacakan keras-keras dan memperhatikan reaksi mereka. Ada pula kisah Eleonora Cisneros Gonzáles, yang puluhan tahun menerjemahkan kosmetik MAC ke bahasa Spanyol. Dia tidak hanya menerjemahkan materi kosmetik, tetapi juga berbagai bahan pelatihan dan manual perusahaan untuk para penatas rias. Bidang ini membuatnya harus sering riset, berlangganan banyak majalah rias, dan membangun glosarium kosmetik pribadi yang dikumpulkannya setelah bertahun-tahun bekerja untuk MAC.

Buku ini juga menyinggung penerjemahan yang dikerjakan sukarelawan. Misalnya, pada situs internet seperti Twitter, Facebook, dan Wikipedia. Hal ini sempat meresahkan penerjemah profesional, yang menganggap model macam ini mengancam bisnis mereka dan dapat menghasilkan terjemahan buruk. Namun, seperti yang diuraikan Ghassan Haddad, direktur internasionalisasi untuk Facebook, faktanya perkembangan Facebook berjalan sangat cepat, jadi semua bagian perlu lekas diterjemahkan agar kemunculannya bisa berbarengan dengan versi bahasa Inggris. Kasus serupa terjadi ketika gempa yang melanda Haiti pada 2010. Dengan nyawa manusia yang perlu diselamatkan secepatnya, arus penerjemahan begitu pesat sehingga tenaga sukarelawan tak pelak lagi diperlukan.

Buku ini secara garis besar sekadar memperkenalkan profesi penerjemah dan juru bahasa, sehingga layak dibaca siapa saja, tidak hanya penerjemah. Bahasanya sangat lugas dan di beberapa tempat penuh kutipan dan anekdot ringan mengenai dunia penerjemahan. Mungkin banyak rekan penerjemah yang tak asing dengan kisah-kisah dalam buku ini. Tapi untuk saya pribadi, buku ini membuka mata saya bahwa dunia penerjemahan tidak selebar daun kelor. Banyak ceruk yang bisa dimasuki kalau benar-benar dicari.

Judul asli: Found in Translation
Penulis: Nataly Kelly dan Jost Zetzsche
Penerbit: Perigee (Penguin Group)
Tahun terbit: 2012
Tebal: 270 halaman
ISBN:  9780399537974

Advertisements

5 thoughts on “[Ulasan] Found in Translation

  1. Harganya berapa ini Mbak?
    Saya pribadi pengen banget menerjemahkan karya fiksi seperti Anda. Bagaimana ya kiatnya? Pernah kirim contoh tes di sebuah penerbit, gagal. Mungkin belum sesuai harapan mereka ya, hiks. Terima kasih.

    1. Maaf baru sempat balas, Mas. Saya beli buku ini di Book Depository USD 15.2. Waktu itu jatuhnya sekitar Rp160rb.

      Wah, kiatnya apa ya? Soalnya saya ngalamin juga kok ditolak di penerbit-penerbit. Lebih baik dicoba terus, Mas. Kirim lagi ke penerbit2 lain. Soalnya sebenernya penerbit itu selalu membutuhkan penerjemah, karena buku yg diterbitkan juga makin banyak.

      Kalau Mas gagal di tahap tes penerbit dan editornya nggak mengirim kabar di mana letak kegagalannya, mungkin editornya emang nggak sempat. Terpaksa kita sendiri yang mengevaluasi kegagalan itu. Saya sendiri belajar menerjemahkan fiksi dari milis bahtera (milis tentang penerjemahan), baca blog2 tentang menerjemahkan (terutama Catatan Penerjemahan http://penerjemahan.wordpress.com/), dan sering membaca buku asli terjemahan yang saya anggap bagus, misalnya Harry Potter :D.

      1. Saya juga ikut milis bahtera sih, tapi jarang ikut mengayuh. Dah ketinggalan jauh dari teman-teman hehe. Memang cara yang paling mudah dengan membandingkan karya asli dan terjemahan yang bagus ya Mbak. Terima kasih, salam dan sukses buat Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s