Harga Buku Terjemahan Mahal?


blog-2

Beberapa hari yang lalu, teman saya Uci bercerita tentang pembaca yang gundah karena harga buku terjemahan berbeda tipis dengan buku aslinya. Karena dulu saya pernah bekerja di penerbit, Uci menanyakan pendapat saya, benarkah harga buku terjemahan bisa begitu mengerikan hingga hampir menyamai buku asli?

Begini saja. Coba kita lihat harga buku yang terbit tahun ini. Pertama, Inferno karya Dan Brown. Saat tulisan ini diturunkan, harga buku aslinya di Periplus adalah Rp295.000 (hardcover) dan Rp360.000 (softcover, large print). Di Book Depository, harga setelah diskon dengan kurs sekarang sekitar Rp285.000 (hardcover) dan Rp341.000 (softcover, large print). Buku terjemahannya, terbitan Mizan, dijual Rp125.000 (softcover) belum diskon.

Kedua, The Cuckoo’s Calling karya Robert Galbraith. Di Periplus, harga buku aslinya Rp312.000 (hardcover) dan Rp270.000 (softcover). Masih buku asli, di Book Depository, harganya setelah diskon dengan kurs sekarang sekitar Rp275.300 (hardcover) dan Rp134.000 (paperback, preorder). Gramedia, penerbit edisi terjemahannya, melego buku ini dengan harga Rp99.000 (softcover) belum diskon.

Rasanya harga kedua buku ini masih lebih rendah daripada buku aslinya. Tapi, karena saya sendiri pernah bekerja di penerbit kecil yang khusus menerbitkan buku terjemahan, saya tahu menentukan harga buku memang susah-susah gampang. Kekhawatiran harganya akan mendekati buku asli tentu ada.

Menentukan Harga Jual Buku

Pertanyaan Uci membuat saya harus mengingat-ingat dan mengorek luka arsip lama kerjaan saya dulu di kantor. Sependek ingatan saya, komponen yang menentukan harga buku kira-kira sebagai berikut (meski tiap penerbit bisa berbeda-beda):

25% produksi (terjemahan, proofread, kover, ilustrasi, cetak, dll)
10% royalti (hak terjemahan buku asing, termasuk uang muka/advance)
5% promosi (sifatnya tentatif, kuis, review buku, bedah buku, dll)
50% distribusi (rabat untuk toko buku, dll)
10% laba bersih penerbit

Seperti produk lainnya, harga buku ditentukan oleh harga pokok produksi (HPP). Kalau HPP-nya besar, harga buku jadi mahal. Tapi kalau HPP-nya bisa ditekan, otomatis harga jual jadi lebih murah. Jadi, harga buku sangat relatif, tergantung bagaimana penanganan bukunya (jenis kertas, desain kover, terjemahan, oplah, dll). Nah, di tempat saya dulu, untuk memperoleh harga jual buku, HPP biasanya dikalikan 4 atau 5. Soal pengali tersebut, penerbit punya hitung-hitungan sendiri supaya tidak rugi.

Saya jadi ingat salah satu buku terbitan kantor saya. Bukunya setebal 546 halaman, dengan oplah 3000 eksemplar. Berikut ini gambaran kasar perincian HPP-nya:

Terjemahan: 8.660.000
Edit: 4.330.000
Proofread: 546.000
Kover: 1.000.000
Ilustrasi: 1.500.000
Cetak: 43.050.000
Total: 59.086.000
HPP per buku: 59.086.000 ÷ 3000 = 19.700 (dibulatkan)
Harga jual buku: 19.700 × 4 = 78.800 ≈ Rp79.000

Ketika itu, kami sempat kesulitan menentukan harga jual buku ini. Saat jalan-jalan ke toko buku, saya melihat harga edisi hardcover buku aslinya sudah dilego menjadi Rp120.000, sedangkan paperback menjadi “hanya” Rp85.000. Alamak! Padahal, buku kami sudah naik cetak! Padahal, ongkos produksi nggak bisa dikecilkan lagi! Tapi, harga tetap harus ditentukan. Dan, agar pembaca mau membeli buku kami, harganya tidak boleh lebih dari 85.000. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya buku itu dijual dengan harga Rp79.000.

Kenapa harga buku terjemahan terbitan kami hampir mendekati buku asli? Kebetulan buku aslinya terbit tahun 2008, sementara kami baru menerbitkannya awal 2010. Jadi, di antara waktu itu, penerbit buku asli sudah menerbitkan edisi paperback yang berkualitas lebih rendah dengan harga lebih murah. Selain itu, penerbit kecil kami hanya mencetak 3.000 eksemplar, jauh berbeda dengan buku aslinya yang konon terjual lebih dari 100.000 eksemplar. Tentu saja hal ini memengaruhi HPP buku kami.

Berburu Diskon

Sebenarnya, kalau dilihat dari komponen harga buku di atas, porsi terbesar ada di distribusi dan toko buku yang mencapai 50%! Fenomena ini bukan cuma di Indonesia (artikel di sini menguraikan biaya produksi satu buku yang terbit di AS). Tapi, kadang biaya distribusi ini “dikembalikan” ke pembaca dalam bentuk diskon. Makanya, banyak toko buku yang menjual buku dengan rabat 10-15% atau menggelar acara diskon besar pada waktu-waktu tertentu. Selain itu, penerbit kerap memangkas jalur distribusi konvensional ini dengan menjual sendiri buku secara online sehingga pembeli bisa memperoleh rabat lebih besar.

Saya yakin penerbit sangat berhati-hati dalam menentukan harga buku terjemahan. Kalau mahal, siapa yang akan beli? Lagi pula, banyak pembaca yang mampu membaca dan membeli buku asli. Tapi, keberadaan buku terjemahan tetap dibutuhkan, yaitu untuk menjangkau masyarakat yang belum tentu memiliki kelebihan dan kemudahan akses ke buku asli.

Sebagai penerjemah, saya berpendapat buku terjemahan dan buku asli adalah dua karya “terpisah”. Masing-masing perlu dihargai sebagai karya dengan tingkat kesulitan yang berbeda atau, ekstremnya, dengan penulis yang berbeda. Jadi, kalau ada pendapat bahwa buku terjemahan tidak boleh lebih mahal daripada buku asli, buat saya itu kurang tepat, karena bagaimanapun karya terjemahan melewati proses kreasi dan produksi selayaknya buku asli. Tapi percaya deh, tidak ada buku terjemahan yang begitu mahal hingga menyamai harga buku aslinya, kecuali buku aslinya didiskon gila-gilaan!

======

PS.
Baca juga wawancara Uci dengan Mba Hetih Rusli, editor Gramedia Pustaka Utama, mengenai harga buku terjemahan di sini.

Advertisements

41 thoughts on “Harga Buku Terjemahan Mahal?

      1. btw, agak OOT, inferno bagus ga Mbak? 125k belum diskon kayaknya sih masih masuk akal ya 🙂

  1. Terimakasih Mbak Lulu, artikelnya sangat informatif 🙂
    Seengganya saya tahu alasan penerbit menentukan harga buku terjemahan, memang tidak sembarangan ya. Memang rasanya jengkel kalau melihat buku terjemahan harganya mendekati yang asli, tapi dengan artikel ini semoga banyak pembaca yang akhirnya bisa mengerti

    1. Sama-sama, Ren. Aku sendiri sebagai pembeli juga suka sebel kalau buku mahal hehe… Tapi aku “beruntung” pernah kerja di penerbit, jadi memang ngerasain gimana HPP itu suka mepet :p Tapi mungkin penerbit lain punya pendapat lain, tulisan ini berdasarkan pengalamanku aja 😀

    1. Soal itu sebenarnya saya juga kurang paham, Mas. Tapi angkanya bisa berbeda-beda, antara 45-55%. Yang bisa dilakukan penerbit kecil seperti tempat kerja saya dulu hanya kadang-kadang berjualan sendiri secara online supaya memangkas ongkos distribusi ini 🙂

    2. Mas, mengenai ini sudah lama diketahui bahwa toko buku selaku salah satu rantai distribusi adalah yang “berkuasa” paling besar. Apalagi pembaca/konsumen tiap kali menanyakan atau mencari buku biasa bertanya, “Ada di toko XX nggak?” Ini wajar karena toko itu paling luas jaringannya dan paling sering didatangi, maka makin tinggilah posisi tawarnya. Demikian sependek pengetahuan saya.

      1. Ah, makasih jawabannya, Rin. Ya, posisi tawar yang tinggi itu benar juga ya. Soalnya berasa banget keberadaannya dibutuhkan. Tapi kalo boleh protes ke distribusi, mbok ya jangan tinggi-tinggi diskonnya 😀

    1. Wah, aku baru ngeh… Soalnya buatku buku lokal dan buku terjemahan sama aja, harganya tergantung bagaimana produksinya, bukan hanya dari siapa penulisnya. Karena sama-sama ada biaya cetak dan royalti yang dikeluarkan misalnya. 😀

      1. Iya juga ya. Tapi kadang suka bingung aja kalau ngenbandingin harga buku dari dua penerbit berbeda. Tebalnya sama tapi harganya kok beda? 😀

    2. Ini kembali ke hitung-hitungan HPP-nya, Yana. Kalo soal ini, ongkos cetaklah yang menyita porsi pengeluaran paling besar. Krn aku dulu kerjanya di penerbit kecil yg ga bisa nyetak banyak-banyak, HPP jadi terasa berat. Kalau penerbitnya besar, apalagi yang akan diterbitkan buku unggulan, penerbit bisa mencetak cukup banyak dan ini menekan ongkos produksi.

      Dulu aku juga sering menjadikan ketebalan buku sebagai patokan dalam penentuan harga. “Penerbit A ngasih harga 60.000 untuk buku setebal 500, masa kita 80.000,” misalnya begitu. Akhirnya ada ongkos2 yang terpaksa dikecilkan lagi agar buku tetap terjangkau. 😀

      1. Iya juga, sih. Buku yang harganya mahal biasanya dari penerbit yang kecil atau anak2 dari penerbit besar gitu. Baru ingat juga buku self publishing juga harganya lbh mahal dr yg diterbitin mayor. Soalnya nyetaknya terbatas 🙂
        Makasih infonya ya, mba

  2. Sama-sama, Lulu. Kulanjutkan di sini, detail mengenai distribusi dan toko buku pernah kubaca di buku Bestseller Sejak Cetakan Pertama (Agus Irkham). Sayangnya ini buku lama dan sudah sulit ditemukan. Ada juga pengetahuan semacam itu di Majalah Matabaca dulu, lagi-lagi medianya sudah almarhum.
    Terkait keuntungan dan kalkulasi, ada bahasan relevan di buku yang sedang kubaca. Judulnya No One To Someone (Nina Moran). Nanti kutulis di blog deh, biar nggak kepanjangan di sini:D

    1. Benar, kebetulan aku punya bukunya. Buku Agus Irkham ini kecil, tapi banyak isinya dan bermanfaat ya. Nanti akan kubaca lagi. Makasih ya, Rin 😉

  3. Tambahan lagi: Ada penulis/proprietor yang menetapkan syarat sangat rumit, antara lain terkait warna cover buku. Ada buku terkenal yang warnanya mesti sama persis dengan buku asli, sehingga penerbit tidak punya pilihan selain menggunakan percetakan mahal. Ini sudah termasuk klausul perjanjian penerbitan terjemahan. Sudah pasti harganya merangkak naik dari yang direncanakan.

    1. Ah, benar sekali, Rin. Ini tambahan informasi yang menarik, sehubungan dengan keterikatan dengan kontrak terjemahan yang ternyata memengaruhi HPP.

  4. wah informatif banget mb postingannya, jd tahu cerita dibalik layar produksi buku terjemahan, ak salah satu orang yg menilai harga buku dari ketebalannya jadi kalau bukunya tebel banget dan harganya selangit maklum aja, walau belinya pas ada uang sisa, #kutubokek :))

    1. Beda gimana maksudnya, Nad? Tapi emang sih, pembaca kalau udah ngebet sama satu serial atau tergila-gila sama penulis tertentu, bakal bela-belain beli meski harga buku terjemahannya mahal.

      1. Pasarnya itu, kalau istilah kerennya, beririsan hehehe. Jadi antara kelompok pembaca buku dalam bahasa asli dan kelompok pembaca buku terjemahan ada yang masuk keduanya. Makanya mereka bisa membandingkan harga buku terjemahan dengan buku asli, dan tidak kesulitan memilih salah satu yang lebih sesuai selera mereka.

  5. Ini informatif sekali. Terima kasih, mbak.
    Saya penasaran soal harga kertas terkait penerbitan buku, mbak. Selama ini di Indonesia (jika dibandingkan dengan negara lain, misalnya) harga kertas terhitung mahal bianget apa masih wajar?

    1. Makasih udah berkunjung, Mas Hilal. Sewaktu dulu masih kerja di penerbit, saya dan teman-teman suka mengeluh, duh coba pemerintah ngasih subsidi kertas (*hehe maunya), soalnya emang biaya cetak, atau secara nggak langsung harga kertas, itu yang bikin HPP tinggi.

      Tulisan teman saya di sini (http://bruziati.wordpress.com/2013/12/15/harga-buku-terjemahan-mahal-menyambung-tulisan-lulu/#comments) juga menyebutkan bahwa kertas kita (terutama yang mutunya bagus) masih banyak diimpor, jadi jatuhnya mahal.

  6. O gitu penjelasannya ya, tapi bener juga kata Mba Lulu kalo saya mesti kursus dulu untuk belajar bahasa Inggris (misalnya) tentu repot juga, maklum english-nya belepotan sangat 😦

    1. Aku jarang membandingkan harga buku terjemahan dengan buku lokal, tapi kupikir komponen untuk menentukan HPP-nya ga terlalu berbeda. Makasih udah mampir, Ratna. 🙂

  7. numpang tanya kalau buku prebound itu pa ya? trus saya dapet dua buku sama (import) beda publisher doang tapi publisher lain jual sampe dua kali lipat gitu , dan setelah dilihat ada perbedaan jumlah halaman sampe selisihnya aja sampe 100 an lebih, padahal large print, nah saya nggak ngerti sama tambahan jumlah halaman padahal large print

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s