Sepekan Penerjemahan Sastra (Bagian III-Tamat)


Malam Penutupan Lokakarya Penerjemahan Sastra, Teater Salihara, 28 September 2013.
Malam Penutupan Lokakarya Penerjemahan Sastra, Teater Salihara, 28 September 2013.

JUMAT, 27 SEPTEMBER 2013

Sewaktu lokakarya, kami sempat kehilangan anggota kelas kami. Selama dua hari, Kari Brænne terkapar di hotel lantaran sakit perut. Syukurlah, hari ini Kari bisa bergabung lagi, meskipun wajahnya masih agak pucat.

Karena masih banyak yang harus dikerjakan, Kamis kemarin mba Mia dan Kari Dickson memberi kami PR menerjemahkan bagian klimaks bab ini, yaitu dialog antara Evelyn dan tetangganya, Aslaug. Dialognya cukup kocak, menurut saya, dan setiap peserta mendapat beberapa baris untuk diterjemahkan.

Pagi ini kami membahas PR tersebut. Lucu rasanya ketika seluruh dialog digabungkan, mengingat ini hasil pemikiran beberapa kepala. Satu hal yang kami pelajari dalam menerjemahkan dialog: jangan pernah terpaku dengan susunan bahasa sumbernya, dan carilah yang paling luwes ketika diucapkan. Kari Dickson bercerita, jika sedang menerjemahkan suatu dialog, dia sering bicara sendiri untuk merasakan apakah terjemahannya sudah pas.

Dan inilah contoh hasil terjemahan kami:

Asli: ‘You’ll have to get it changed then. Have I told you about my handyman?’

Terjemahan: “Ya, kalau begitu harus diganti. Aku sudah pernah cerita soal tukang langgananku, belum?”

Atau ini:

Asli: ‘Such a handsome young man, you know, and ever so helpful! Aren’t you going to ask me in?’

Terjemahan: “Orangnya masih muda, ganteng, baik lagi! Apa aku tidak boleh masuk?”

Tahu Aaron Sorkin, penulis skenario Amerika yang meraih Academy Award 2010 untuk kategori skenario adaptasi terbaik lewat film The Social Network? Sorkin terkenal selalu mengucapkan keras-keras dan memainkan semua bagian yang ditulisnya supaya bisa lebih menjiwai. Bahkan, Sorkin sempat mematahkan batang hidungnya sendiri gara-gara berdialog terlalu dekat dengan cermin. Mungkin penerjemah perlu seperti itu, bertingkah seperti “orang gila” agar dapat menjiwai apa yang diterjemahkannya. Asalkan jangan kelewatan seperti kasus di atas deh.

Arys, sebagai wakil kelas Norwegia-Indonesia, meyampaikan kesan-pesannya.
Arys, sebagai wakil kelas Norwegia-Indonesia, menyampaikan kesan-pesan.

Setelah istirahat, seluruh peserta dikumpulkan di Ruang Multimedia Teknik untuk mengikuti Sidang Pleno dan menyampaikan kesan-pesan selama mengikuti lokakarya. Saya terlambat karena telat memulai makan siang dan shalat dzuhur. Ketika saya datang, Arys dan mas Wewen sudah tampil bergantian di depan sebagai wakil dari kelas kami.

Seusai sidang, kami kembali ke Ruang PKBB. Menurut jadwal, besok seluruh peserta lokakarya akan membacakan hasil terjemahannya di Teater Salihara. Jadi, waktu yang tersisa harus kami manfaatkan untuk berlatih. Sebelumnya, mba Mia membagi-bagi terjemahan sehingga setiap anggota mendapat porsi yang harus dibacakan. Khusus dialog Evelyn dan Aslaug, peran itu diberikan kepada saya dan Melani. Saya pun pasrah harus menjadi Aslaug yang usil. “It is your fifteen minutes of fame,” kata Kari Dickson, menyemangati kami berdua.

SABTU, 28 SEPTEMBER 2013

Akhirnya, Teater Salihara, malam penutupan lokakarya.

“Malam” mungkin kurang tepat, karena acara sudah dimulai sejak sore pukul 16.00. Tapi apa pun itu, hari ini rasanya menegangkan sekali. Kemarin kami hanya berlatih sebentar, jadi saya dan teman-teman berjanji akan berkumpul beberapa jam sebelum acara untuk berlatih sekali lagi.

Sebenarnya sebelum malam penutupan, ada dua acara lain yang menjadi rangkaian lokakarya penerjemahan sastra untuk hari ini. Pertama, Seminar Hak Cipta, bertempat di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, menampilkan Kartini Nurdin (pendiri dan ketua YRCI) dan Murti Bunanta (penulis lebih dari 50 buku anak); kedua, Diskusi Panel “Kiat Kreatif Mempromosikan Sastra”, menampilkan Kate Griffin (British Centre for Literary Translation), Eric Abrahamsen (Paper Republic), John McGlynn (Yayasan Lontar), serta Eliza Vitri Handayani (Inisiatif Penerjemahan Sastra). Namun, karena badan kurang fit setelah lima hari mengikuti lokakarya, saya memilih tidak ikut. Agak menyesal sih, karena rupanya seru juga.

Kelas Norwegia-Indonesia di puncak Teater Salihara, minus Yani dan Misran.
Kelas Norwegia-Indonesia di puncak Teater Salihara, minus Yani dan Misran.

Sebelum pembacaan hasil terjemahan dimulai, Eliza sebagai penggagas Inisiatif Penerjemahan Sastra menyampaikan sambutan, dan dilanjutkan presentasi oleh wakil dari Creative Encounters, salah satu sponsor lokakarya. Creative Encounters adalah program Asia-Eropa Foundation (ASEF) yang bertujuan mempromosikan pertukaran budaya antara Asia dan Eropa di berbagai bidang kesenian.

Tibalah acara puncak. Setiap kelas muncul bergantian. Kelas Indonesia-Inggris yang pertama, membawakan cerpen karya Triyanto Triwikromo, disusul kelas Inggris-Indonesia, yang menampilkan salah satu bab buku karya Jose Dalisay, penulis asal Filipina. Kedua kelas tampil memukau. Terus terang saya sampai minder… hehe…

Berikutnya giliran kami. Kari Brænne, yang hari ini sudah lebih segar, membacakan beberapa paragraf awal dalam bahasa Norwegia, dilanjutkan Kari Dickson dengan versi bahasa Inggrisnya. Setelah itu, kami dan mba Mia membacakan hasil terjemahan, dan ditutup dialog antara Evelyn dan Aslaug yang dibawakan oleh saya dan Melani. Versi lengkapnya bisa dilihat dalam video di bawah ini, meski mungkin kurang jelas.

Penampilan pamungkas adalah kelas Mandarin-Indonesia yang sumpah keren! Dengan apik mereka membacakan terjemahan cerpen karya Su Cici, penulis asal China. Dan akhirnya, semua kelas telah mendapat giliran. Kerja keras selama seminggu ini pun tuntas!

Seusai acara, untuk makan-makan, kami dibawa naik lift proyek yang bising dan cukup mendebarkan menuju ruang terbuka di puncak Teater Salihara. Dari posisinya yang cukup tinggi, seluruh Jakarta terbentang di hadapan kami. Saya yang belum pernah ke sini hanya bisa melongo kagum. Saat kami tiba di atas, azan Magrib tengah berkumandang. Syahdu sekali.

Ketiga pengampu dengan selendang batik cendera mata dari para peserta kelas Norwegia-Indonesia. Semoga bermanfaat! :D
Ketiga pengampu dengan selendang batik cendera mata dari kelas Norwegia-Indonesia. Semoga bermanfaat!

Inilah akhir dari rangkaian lokakarya penerjemahan sastra 2013. Bagi saya, meskipun melelahkan–karena setiap hari harus menembus kemacetan seperti orang kantoran–lokakarya ini cukup membuka mata saya, terutama mengenai penerjemahan sastra dan kondisi yang melingkupinya. Salah satunya mungkin perlunya asosiasi sendiri yang dapat menjawab tantangan yang selama ini dihadapi penerjemah buku atau sastra. Semoga lokakarya ini diadakan untuk seterusnya, dan segala upaya yang telah dimulai oleh Inisiatif Penerjemahan Sastra tidak terhenti sampai di sini.

Oh ya, satu lagi. Buat teman-teman peserta kelas Norwegia-Indonesia, PR kita belum selesai! 😀

[Tamat]

Advertisements

10 thoughts on “Sepekan Penerjemahan Sastra (Bagian III-Tamat)

  1. Aku termasuk yang “gila” sewaktu menerjemahkan dan menyunting. Terutama kalau ceritanya berbau thriller:))

  2. HA! Aku juga suka membacakan keras-keras hasil terjemahan dialog. Ternyata cara itu jitu juga ya!
    Pas nonton kalian manggung rasanya asik banget. Ga nyangka aku menikmati menonton “pertunjukan teater” seperti itu. Belom pernah nonton teater sih hehe. Apalagi ketika grup Mandarin dan Norwegia manggung. Rasanya seperti diajak berjalan menyusuri lorong dengan pelita di ujungnya. Saat penulis asli membacakan naskah, aku merasa berjalan dengan cahaya remang karena pelita masih jauh. Begitu versi bahasa Inggris dibacakan, ‘penglihatan’ jadi semakin jelas. Pas versi bahasa Indonesianya disajikan semuanya terang benderang dan aku dimanjakan oleh ekspresi penampilnya yang begitu memikat. Jempol!

    1. Makasih, mba. Sebagai orang yang juga belum pernah nonton teater :p, aku sampai merinding malam itu. Aku juga bertanya-tanya siapa sih yang punya ide menampilkan hasil terjemahan di penghujung lokakarya. Keren banget soalnya, apalagi kelas Mandarin tahun ini *menjura*

      Iya, cara itu membantu, rasanya seolah kita bikin drama sendiri… hihihi

      1. Ah, iya, aku lupa :p Bener, mba, lain rasanya, membuat ingin nonton pembacaan puisi atau cerpen. Itu pun aku belum pernah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s