CV Penerjemah, Perlu Dibuat Berbeda


Akhirnya, bisa menulis blog lagi setelah wira-wiri dengan urusan laptop ๐Ÿ˜€ Kali ini, saya ingin menulis tentang membuat curriculum vitae (CV) yang menarik bagi penerjemah pemula, atau bagi yang sudah lama bergelut di bidang ini namun ingin merapikan CV-nya. Pembahasan ini saya rangkum dari diskusi Temu Komp@kย HPIย pada 9 Februari 2013, dengan tema “Sukses Membangun dan Beralih Karier Menjadi Penerjemah/Juru Bahasa”. Narasumbernya tiga penerjemah berjam terbang tinggi, yaitu Wiyanto Suroso, Claryssa Suci Fong, dan Dita Wibisono.

Oh ya, Temu Komp@k kali ini istimewa, karena diadakan bertepatan denganย Peringatan HUT HPI Ke-39. Selain membahas tema di atas, Temu Komp@k ini juga menandai peluncuran Direktori Penerjemah/Juru Bahasa Indonesia, sertaย pengukuhan Penerjemah Bersertifikasi Nasional.ย Laporan pandangan mata acara ini sudah ditulis dengan apik oleh Mba Dina Begum di sini.

Kembali ke masalah CV penerjemah. Ketiga narasumber sependapat bahwa salah satu cara membangun karier sebagai penerjemah adalah membuatย curriculum vitae (CV)ย atau resume sebagai alat pemasaran. Tidak bisa dipungkiri, promosi dari mulut ke mulut juga penting. Tetapi sebagai langkah awal, membuat CV yang baik sangat diperlukan.

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari diskusi tersebut:

  • CV sebaiknya singkat dan jelas. Maksimal 2 halaman, lebih baik lagi 1 halaman. Di sini saya baru tahu bahwa di negara seperti AS dan Kanada, pengertian CV agak berbeda dengan resume. CV boleh panjang hingga puluhan halaman, karena menjabarkan semua proyek yang pernah ditangani, sementara resume semacam ringkasan CV. Namun, di negara-negara lain, keduanya kerap disamakan.
  • Cantumkan informasi yang perlu saja. Tidak semua informasi pribadi harus ditampilkan, seperti status pernikahan atau bahkan tanggal lahir. (Di buku How To Succeed as a Freelance Translator yang pernah saya ulas di sini, disebutkan bahwa perlu tidaknya menampilkan informasi pribadi tergantung pada negara yang dituju. Di negara-negara Eropa, data pribadi biasanya dicantumkan).
  • Tampilkan bidang atau spesialisasi yang diminati. Misalnya novel, games, legal, ekonomi, dll. Dalam diskusi tersebut, ada saran agar sebaiknya memisahkan CV untuk penerbit dan untuk agensi.
  • Titikberatkan pada keterampilan, pengalaman, serta kualitas sebagai penerjemah. Tuliskan pengalaman yang paling relevan dan singkirkan yang tidak mendukung. Namun, jangan menyesatkan calon pemberi tugas dengan memberikan informasi tentang kemampuan kita secara berlebihan.
  • Lampirkan contoh terjemahan. Jangan lupa,ย sertakan pula teks bahasa sumbernya.
  • Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang calon pemberi kerja. Dengan begitu, kita bisa membuat CV atau surat lamaran kerja yang setepatnya.
  • Baca ulang CV sebelum dikirimkan. Hindari salah eja atau penempatan yang tidak rapi. Ini penting, karena menggambarkan kualitas kita sebagai penerjemah.

Berikut ini informasi yang sebaiknya ada di CV atau resume:

  • Pasangan bahasa yang dikuasai. Misalnya, Inggris-Indonesia, Jerman-Indonesia.
  • Layanan yang diberikan. Misalnya, penerjemahan atau penyuntingan atau juru bahasa atau bisa semuanya.
  • Pengalaman bidang tertentu yang relevan. Jangan tuliskan semua pengalaman, dan kemukakan bidang yang kita kuasai dan minati. Misalnya, olahraga, ekonomi, atau hukum. Urutkan dengan mencantumkan yang terakhir atau yang utama di paling atas, dan seterusnya.
  • Pengalaman terkait kemampuan teknik penerjemahan. Misalnya, kursus atau pelatihan yang pernah diikuti. Masukkan pula situs web atau blog jika ada, karena menunjukkan keterampilan menulis.
  • Pengalaman apa pun yang menunjang CV. Gunanya untuk lebih meyakinkan calon pembeli kerja mengenai kemampuan kita dalam menerjemahkan. Misalnya, pernah tinggal di luar negeri, atau aktif dalam organisasi penerjemahan.
  • Kemampuan menggunakan perangkat lunak. Misalnya, MS Office atau CAT Tools kalau ada.
  • Kapasitas kerja. Misalnya, kemampuan menerjemahkan berapa kata per hari, dll. Tapi ini sifatnya opsional.
  • Informasi kontak. Permudah calon pemberi kerja untuk menghubungi kita. Yang paling penting tentu saja e-mail dan nomor telepon. Masukkan pula alamat blog atau website kalau ada. Jika kita mengincar klien luar negeri, tak ada salahnya menambahkan info zona waktu tempat tinggal kita.

Nah, begitulah gambaran singkat membuat CV penerjemah hasil diskusi Temu Komp@k di atas. Contohnya sendiri sangat banyak di internet. Yuk, siap-siap merapikan CV ๐Ÿ˜€

Advertisements

60 thoughts on “CV Penerjemah, Perlu Dibuat Berbeda

  1. Tambahan dariku, alamat blog ternyata membantu jika dicantumkan dalam CV ketika melamar ke penerbit:)

    1. Makasih tambahannya, Rin. Bener banget. Selain itu, punya blog juga erat kaitannya dengan kemampuan menulis. Buat penerjemah itu sangat membantu, karena bagaimanapun pekerjaan kita tulis-menulis ๐Ÿ™‚

  2. Halo mba. Mau tanya dong. Kalo mau jadi penerjemah freelance tapi sekarang masih sekolah gimana ya? Belum ada pengalaman sih tapi mau coba.
    Terimakasih ๐Ÿ™‚

    1. Halo, Meliisa, maaf baru balas.
      Setahuku untuk melamar penerjemah lepas nggak dibutuhkan syarat sarjana. Jadi, siapa pun bisa, asalkan memiliki keahlian, pengetahuan, dan kemauan untuk itu. Jadi, jika Mellisa yakin, kenapa nggak? Toh nanti biasanya kita akan dites dulu sebelum mendapat tugas penerjemahan. Masalah pengalaman pun bisa dicari. Semangat yaa ๐Ÿ˜‰

  3. salam kenal mbak Lulu ๐Ÿ™‚
    infonya saya dapat dari blog mbak dina, sangat membantu mbak. Saya pengen jadi freelance translator juga. Jadi semangat ngelamar jadi penerjemah nih..hehehee…

    1. Salam kenal juga, Ika ๐Ÿ™‚ Makasih sudah berkunjung.
      Ayooo, aku dukung Ika jadi freelance translator. Semangat ya ^_^

  4. Halo Mbak Lulu, salam kenal, Senang sekali bisa ketemu blog ini dan terima kasih sharingnya yang sangat bermanfaat buat saya yang juga bisa terjaring jadi freelance translator. Noted, Mbak ๐Ÿ™‚

  5. Salam kenal, Mbak Lulu. Saya belum mempunyai pengalaman bekerja sebagai penerjemah. Kalau saya ingin menjadi freelance translator, apakah kita perlu mengirimkan surat lamaran pekerjaan, CV, sample terjemahan, dan pas foto melalui pos atau e-mail?

  6. Salam kenal juga, Mba Aimatul. Sebenarnya melalui pos nggak masalah, tapi kurasa lebih baik lewat e-mail, sehingga jika cv dan sampel terjemahan kita dianggap memenuhi syarat, penerbit akan lebih mudah menghubungi kita dan mengirimkan materi tes sekiranya ada tes yang perlu kita lakukan. Dan menurutku dengan lewat e-mail, segala percakapan jadi lebih mudah dicatat dan disimpan.

  7. Salam kenal Mbak Lulu, makasih informasinya membantu banget! ๐Ÿ™‚ kebetulan aku lagi mau mencoba jadi penerjemah lepas, jadi nggak bingung lagi deh, hehehe ๐Ÿ™‚

    1. Salam kenal juga, Mbak Tiara. Sama-sama, aku juga senang jika informasi ini bisa bermanfaat. Semangat ya! Selamat merapikan cv ๐Ÿ™‚

  8. asalamu’alaikum mbak lulu,wah informasinya memberi semangat sekali untukku yang rencana insya allah sudah keluar sekolah ingin bertekad melamar menjadi penerjemah atau freelance translator hehe ๐Ÿ™‚ rencana aku mau ikut les bahasa terlebih dahulu rencana ingin menjadi penerjemah bahasa inggris dan korea,semoga tercapai amin ๐Ÿ™‚ eh mbak,mau tanya nih. kalo melamar ke penerbit besar seperti gramedia,apa akan di terima atau tidak untuk misalnya nanti pemula bagi aku? mohon di balas ya mbak ๐Ÿ™‚ wassalamu’alaikum ๐Ÿ™‚

    1. Wa ‘alaikum salam, mba. Aamiiin, semoga cita-citanya tercapai yaaa. Ini pekerjaan paling keren sedunia ๐Ÿ˜€

      Menurutku, nggak masalah ngirim lamaran ke penerbit besar. Soalnya biasanya setiap pelamar akan dites. Nah, hasil tes itu yang menentukan apakah kita dianggap layak menjadi penerjemah di sana. Jadi, saranku, begitu mba diberikan tes dari penerbit, manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Kupikir ujian sebenarnya justru apakah kita mampu bertahan di penerbit tersebut dan meningkatkan terus kualitas pekerjaan kita. Semangat ya, mba ๐Ÿ˜‰

  9. Salam kenal mba lulu.. membantu sekali nih postingannya. aku lagi bingung bikin cv untuk jadi freelance translator, yah karena terbiasa melamar sebagai pekerja full time. pertanyaanku banyak nih mba. mohon pencerahannya yah, hehe.

    1. cv baiknya dalam bahasa indonesia atau inggris ya?
    2. untuk contoh terjemahan, boleh ambil dari naskah di internet? ntar malah kena sanksi penyalahgunaan apa gitu?
    3. trus mencari informasi tentang pemberi kerja. ceritanya kan freelance ya mba, online juga. nah, etis ga kalau kita terlalu banyak bertanya ke si pemberi kerja melalui email?
    4. terakhir masalah honor nih? kalau dalam iklan lowongan, si pemberi kerja tidak mencantumkan nominal, boleh ga kita bertanya sebelum ngelamar?

    Makasih lho mba lulu.. ๐Ÿ™‚

    1. Salam kenal juga, Jean. Aku coba jawab, tapi mungkin lebih berdasarkan pengalamanku ๐Ÿ™‚

      1). Aku lebih sering mengirim cv dalam bahasa Indonesia ke penerbit. Mungkin berbeda kalau kita mengirim cv ke agensi.
      2). Dulu, sebelum punya karya yang bisa jadi sampel terjemahan, aku memakai artikel dari majalah asing. Terus terang saat itu aku belum ngeh soal hak cipta. Belakangan aku baru tahu kalau kita ingin menerjemahkan artikel yang ada di internet, ada baiknya kita sowan dulu ke si pemegang hak cipta, sekadar mengabari bahwa kita ingin menerjemahkan artikel tersebut. Tapi ini konteksnya untuk dipublikasikan di media sih.
      3). Mencari informasi mungkin bisa juga melalui browsing di internet, atau tanya temen yang pernah bekerja sama dengan si pemberi tugas. Tapi sekali-sekali nanya langsung ke pemberi tugas kurasa juga nggak masalah.
      4). Soal honor, kukira bisa ditanya setelah kita melamar. Beberapa teman yang melamar ke agensi penerjemah terkadang mencantumkan honornya dalam cv. Kalau untuk penerbit, aku sendiri belum pernah mencantumkan honor di cv, atau bertanya sebelum mengirim cv. Baru setelah ditawari proyek, aku menegoisasikan honornya.

      Sama-sama. Semoga membantu ya ๐Ÿ˜€

  10. Salam kenal Mba Lulu.. Boleh gak ya mba saya minta email in surat lamaran dan cv yang mba Lulu pakai sewaktu melamar sbg freelance translator? Kalau mgkin ada data2 yg sifatnya privacy, saya minta format nya juga gpp mba.. Minta tlg ya mba. Makasih mba ๐Ÿ™‚

    1. Halo, salam kenal juga, Austin ๐Ÿ™‚

      Pada dasarnya cv saya nggak beda dengan yang ada di LindkedIn saya. Ini tautannya: https://www.linkedin.com/in/lamfaro. Persis seperti penjelasan di atas, cv saya terbagi atas Data Pribadi (alamat, telepon, email, website); Pengalaman; Pendidikan; Pelatihan (di sini saya mencantumkan tes sertifikasi dan lokakarya yang pernah saya ikuti); Keahlian (MS Office, CAT Tools); dan Minat (untuk memudahkan pemberi kerja melihat minat saya di mana).

      Kalau mengirim lamaran ke penerbit, saya juga melampirkan daftar karya terjemahan dan editing yang pernah saya kerjakan.

      Untuk surat lamaran, isinya sederhana aja, yang penting jelas. Biasanya saya menuliskannya langsung di body teks email. Contohnya kira-kira seperti ini:

      Dengan hormat,

      Saya penerjemah dan penyunting lepas. Sejak 2005, saya mengerjakan berbagai genre baik fiksi maupun nonfiksi, meskipun minat utama saya penerjemahan fiksi. Lebih dari dua puluh buku garapan saya telah terbit, dan bersama ini saya lampirkan daftarnya.

      Sebelum menjadi penerjemah lepas, saya pernah bekerja di Penerbit Matahati sebagai editor naskah fiksi. Bersama surat ini saya lampirkan curriculum vitae dan contoh terjemahan yang pernah saya kerjakan.

      Saya berharap Anda bersedia mempertimbangkan lamaran ini. Saya dapat dihubungi pada 555-5555 atau melalui e-mail ini. Terima kasih sebelumnya.

      Semoga bisa menjawab pertanyaan Austin ya. ๐Ÿ˜€

      1. Makasih banyak untuk contoh surat lamaran dan CV yang Mba Lulu bagikan. Membantu banget saat saya melamar pekerjaan. Yah… meskipun belum ada satu pun kabar baik yang saya terima #elusdada Walau begitu, saya ga menyerah. Tetap semangat ngirim CV walau kadang ditolak dan sering ga dibalas ๐Ÿ˜€

  11. Dear Mbak Lulu,

    Saya mau bertanya tantang ijin menerjemahkan buku dari penulisnya. bagaimana biasanya Anda dapatkan ijin tersebut? Saya baru tertarik untuk menerjemahkan sebuah buku. Apakah ijin itu biasanya mudah didapatkan? Atau boleh kita tulis langsung aja asalkan penerbit siap menerbitkannya? Thanks infonya.

    Wassalam,
    Syahrial

    1. Halo mas Syahrial,

      Saya tidak pernah mengurus izin menerjemahkan buku dari penulisnya, karena itu urusan penerbit. Saya sendiri hanya dihubungi penerbit jika suatu karya perlu diterjemahkan.

      Setahu saya urusan semacam itu biasanya antarpenerbit. Jadi penerbitlah yang akan menghubungi penulis atau agen atau publisher atau siapa pun yang memegang rights penerjemahan buku tersebut.

      Saya pikir mungkin lebih baik mas Syahrial justru mencari penerbit (Indonesia) dulu. Tapi ini agak riskan juga, karena penerbitlah yang akan menentukan siapa penerjemahnya, dan kadang-kadang belum tentu mas yang ditunjuk, padahal Andalah yang mengusulkan buku tersebut.

      Tapi nggak ada salahnya menanyakan masalah ini kepada penerbit. Mas Syahrial bisa menghubungi penerbit lewat email bahwa ada buku yang menarik untuk diterbitkan dan alasan mengapa tertarik menerjemahkan buku itu. Semoga jawaban saya membantu.

  12. Mbak Lulu,

    Thanks a lot atas jawabannya. Info ini lebih dari cukup untuk memacu saya menyelesaikan terjemahan perdana saya. Lain kali boleh tanya-tanya lagi kan? Sukses selalu, Amin

    Wassalam,

  13. Halo Mba Lulu salam kenal yah.

    Setelah baca2 blog-nya mba, aku tertarik banget untuk jadi penerjemah buku. Menurutku, ini jenis pekerjaan yg keren banget, karena udh aku impikan sejak kecil hehe. Aku ada beberapa pertanyaan nih mba, mohon dibales ya mba :

    1) Untuk jadi penerjemah, apa ketika kita ngirim cv, penerbit akan melihat sisi usia ya mba? Maklum usiaku udh dibilang ga muda2 banget. Udh 27 ๐Ÿ™‚

    2) Sebelum kita melamar, apa butuh pengalaman ato pendidikan dengan nyantumin sertifikat sebelumnya mba? Misalkan pernah terima pekerjaan sebagai penerjemah. Aku sama sekali ga ada pengalaman soal menerjemahkan untuk nyari uang. Kalo iseng2 di rumah nerjemahin artikel dari internet ato buku lumayan sering. Kalo seperti itu, kemungkinan diterima gimana ya? Saran dari mba gimana, apa aku harus mempertajam keahlian dulu dengan ikut les, atau bisa belajar otodidak ketika akhirnya berhasil menerima order?

    3) Untuk jadi penerjemah, apa di surabaya ada organisasi atau lembaga pelatihan ya mba atau hpi di surabaya apa ada cabangnya? Atau harus ke jakarta?

    4) Aku kan masih belum tau apa2 atau pemula banget ya mba, menurut mba ketika kita memutuskan untuk beralih profesi menjasi penerjemah lepas, modal atau perlengkapan apa aja yg perlu kita siapkan pertama sebagai basicnya dulu ya mba? Misalnya sambil kita kirim cv, buat permulaan kita harus beli hard disk/laptop dengan ram besar, kamus, atau ikut pelatihan dsb ?

    5) Dan karena aku ini masih pemula, apakah ada lembaga2 dimana ada seseorang yg bisa jadi mentor gitu mba? Karena kalo ga ada yg membimbing agak susah juga ya mba, kalo misalnya terjadi masalah ga tau mencurahkan unek2 kemana hehe

    6) Terakhir, kalau kita udh kirim cv ke berbagai penerbit dan lama ga dibales2 atau misalnya udh tes tapi bln juga ada kabarnya, apa yg harus kita lakukan ya mba? Apa kita kontak mereka terus ya mba?

    Sekian mba lulu, maaf ya mba kalo banyak banget pertanyaanku. Makasih sebelum dan sesudahnya ๐Ÿ™‚

    1. Ya ampuuun, maaf sekali telat membalas ini. Salam kenal juga. Aku coba jawab ya:

      1) Aku pertama kali melamar jadi penerjemah freelance ke penerbit itu umur 29 tahun, dan jadi editor tetap di Matahati sewaktu umur 33. Konon, Ibu Gita Yuliani, penerjemah banyak buku GPU menjadi penerjemah pertama kali ketika usia beliau 50-an tahun. Jadi kamu masih muda banget kok ๐Ÿ™‚

      2) Setiap orang punya metode berbeda-beda. Aku sendiri nggak pernah menempuh pendidikan penerjemahan, jadi nggak punya sertifikasi di bidang itu. Setahuku, rasanya sertifikasi tidak menjadi tolok ukur bagi penerbit. Mereka lebih melihat keahlian si penerjemah atau contoh terjemahan yang dikirimkannya. Bikinlah cv sebaik mungkin, nggak masalah belum punya pengalaman. Aku juga pertama kali begitu.

      3) Aku kurang tahu s0al tempat pelatihan di Surabaya. Tapi HPI sendiri punya komda Jatim. Mungkin kamu bisa mencari informasi soal itu dengan bergabung di grup FB HPI atau di websitenya.

      4) Ini ada tulisan bagus mengenai “senjata” penerjemah: https://dinabegum.com/2016/01/27/senjata-penerjemah/
      Kalau menurutku, komputer itu udah pasti harus dimiliki penerjemah. Mengenai speknya, yang penting bisa buat mengetik. Ada beberapa kamus wajib, seperti KBBI, kamus ekabahasa (Oxford misalnya), Tesaurus. Tapi menurutku koneksi internet jauh lebih penting, karena penerjemah bakal sering harus riset.

      5) Kalau soal kursus penerjemah sebenarnya ada beberapa yang bagus. Contohnya di LBI UI atau Atmajaya. Coba cari informasi tentang itu. Trus, ikutan aja milis Bahtera di yahoogroups atau grup Facebook HPI. Kalau punya masalah soal terjemahan, bisa ditanyakan di sana.

      6) Editor itu biasanya amat sibuuuk, mungkin belum sempat membalas aja. Tapi sebagai freelance, aku saranin kamu jangan mengandalkan satu penerbit aja. Coba juga penerbit-penerbit lain. Atau agensi penerjemahan. Soal agensi, aku juga kurang tahu sih karena belum terlalu berkecimpung di penerjemahan nonbuku. Tapi yang pasti, perluas jejaring itu penting.

      Semoga jawaban aku bisa mendorong kamu supaya nggak patah semangat untuk jadi penerjemah ๐Ÿ™‚

  14. Dear mbak lulu,
    Salam kenal
    Saya kehilangan jejak atas novel michelle paver yg berjudul ghost hunter, apakah mbak lulu bisa bantu memberikan informasi, dimana saya bisa mendapatkan novel tsb (jual atau sewa), saya penasaran dgn akhir ceritanya.
    Sangat disayangkan penerbit tutup padahal novelnya bagus dan terjemahannya sangat baik. Makasih mbak

    1. Astaga, sori aku baru membalas sekarang. Salam kenal juga, Juliana ๐Ÿ™‚
      Soal novel Michelle Paver, maaf aku ga bisa bantu, mungkin bisa di-browsing di internet. Sayang sekali, aku sendiri kebetulan nggak punya koleksi lengkap novel tersebut.
      Iya, sama-sama, aku juga sedih Matahati terpaksa tutup, tapi makasih atas apresiasinya yaa ^_^

  15. Salam kenal, mbak Lulu…
    Aku punya minat di bidang sastra dan pengennya kerja di penerbitan jadi editor atau translator gitu, hehe. Minta sarannya dong mbak, kalau jadi penerjemah buku itu harus banget pakai software khusus penerjemahan atau boleh pakai manual aja langsung ketik? Aku pernah nerjemahin cerita anak Jerman buat tugas kuliah matkul penerjemahan di semester awal-awal dulu, ngerjainnya manual hehehe. Kalau tugas kuliah seperti itu bisa dimasukkan ke portofoliokah? Terakhir, aku juga sempat punya niat gabung HPI Junior tapi gak jadi. Soalnya waktu itu situsnya agak susah diakses dan kayaknya kok HPI yang di Bandung jarang banget adain acara atau pelatihan gitu. Aku jadi down haha. Btw, maaf kepanjangan komennya. Mohon dijawab ya mbak, terimakasih ๐Ÿ™‚

    1. Halo Fafa, salam kenal juga ya. Maaf baru balas sekarang. Aku coba jawab satu-satu ya ๐Ÿ™‚

      1. Soal software khusus penerjemahan, itu bukan syarat mutlak. Aku sendiri baru 3 tahun belakangan ini memakai Wordfast. (Coba lihat ini: https://lamfaro.com/2013/07/01/jempalitan-bersama-wordfast/) Tapi itu nggak terlalu penting, apalagi untuk menerjemahkan novel. Ngetik manual udah oke banget.

      2. Karena aku nggak pernah kuliah penerjemahan, aku juga kurang tahu apakah tugas kuliah bisa dimasukkan ke portofolio. Tapi kalau ternyata hak cipta terjemahan cerpen itu memang milik Fafa, menurutku nggak ada salahnya.

      3. Mengenai keanggotan HPI, coba e-mail ke sini: sekretariat@hpi.or.id Tanya-tanya aja di sana mengenai persyaratannya, dll. Biasanya dijawab kok. Klo HPI Komda Jabar jarang mengadakan kegiatan, aku juga kurang tahu. Lebih baik Fafa ikutan grup FB HPI (closed group, harus di-approve dulu). Ini tautannya: https://www.facebook.com/groups/himpunanpenerjemahindonesia/

      Sama-sama, Fafa. Semoga jawabanku bisa membantu.

    1. Halo Karniati. Jika belum punya pengalaman menerjemahkan, Karniati bisa mencantumkan pengalaman yang tidak berhubungan langsung dengan penerjemahan, tapi cukup menunjang. Misalnya, pernah menulis artikel, atau ikut majalah kampus (CV awal saya dulu begini ๐Ÿ™‚ ), mengajar bahasa asing, dll. Atau jika punya pengalaman magang atau volunteer yang berhubungan dengan penerjemahan, cantumkan saja. Tetap semangat ya ๐Ÿ™‚

      1. Wah saya sih waktu ndak pernah ikut kegiatan apapun karena kuliah sore
        Saya sih ada menerjemahkan teks saat mengikuti mata kuliah Practice of English Indonesia Translation dan mata kuliah Practice of Indonesia English Translation karena saya sarjana sastra di jurusan Sastra Inggris Non Reguler Fakultas Ilmu Budaya, UNUD tapi yang saya ingat mata kuliah itu tidak langsung menerjemahkan, hanya membaca dan memahami maksud teks bukan menerjemahkan teks dalam tulisan
        Nah itu masalahnya mbak
        Jadi gimana mbak?

  16. halo mbak lulu, terimakasih atas informasi dan balasan-balas komennya yang sangat membantu. ๐Ÿ™‚ Mbak lulu, kalau seandainya pengalaman menerjemahkan yang saya punya hanya pengalaman saat mata kuliah translation, bagaimana? Apakah itu bisa dicantumkan di cv? Saya lulusan fkip bahasa inggris dan berminat menjadi penerjemah inggris-indonesia untuk novel. Apakah hobi seperti membaca cerita fiksi bahasa inggris bisa dijadikan sebagai pendukung cv, mbak? Karena jumlah cerita yang saya baca perharinya lumanyan banyak dan insyaallah saya memahaminya. Satu lagi mbak, kalau saya ingin menjadi penerjemah novel di gramedia, kemana harus saya kirim e-mailnya. Terimakasih mbak lulu, mohon bantuannya.

    1. Halo, Lindy. Menurut saya tidak masalah. Usul saya, cantumkan saja Lindy pernah menerjemahkan teks bertema apa (yang Lindy terjemahkan dalam mata kuliah Translation) dengan jumlah sekian kata. Selain itu mungkin ada teks lain yang pernah diterjemahkan untuk membantu teman atau kenalan, misalnya, meskipun tidak dibayar? Cantumkan saja, karena itu bagian dari pengalaman. Justru hobi membaca menjadi syarat penting penerjemah fiksi. IMHO, kalau tidak dalam cv, bisa juga disebutkan dalam surat pengantar untuk penerbit. Semoga membantu.

  17. Halo, Mbak Lulu. Salam kenal dari saya :). Saya mendapat link web Mbak dari grup Bahtera. Saya ingin sekali Mbak menjadi penerjemah lepas khusus novel, sudah kurang lebih setahun terakhir ini saya coba melamar tapi masih belum berhasil walaupun sudah mengikuti beberapa kali tes. Mungkin hasil terjemahan saya masih kurang bagus ya Mbak hehehe. Selama setahun terakhir ini juga saya mencoba menerjemahkan naskah fanfiksi di web saya, sekalian sebagai tempat berlatih menerjemahkan dan juga berbagi dengan teman-teman saya yang kurang mengerti bahasa Inggris. Apa menurut Mbak yang saya lakukan itu bisa saya masukkan dalam CV saya? Selama ini saya juga mencantumkannya dalam CV, tapi saya agak takut kalau dianggap hanya main-main saja, Mbak. Saya menerjemahkan dengan serius, bahkan saya belajar lagi EYD agar hasil terjemahan saya lebih bagus. Selain itu saya juga menjadi editor di sana, mengedit naskah sebelum diterbitkan agar sesuai dengan EYD, walaupun saya akui saya masih harus banyak belajar lagi. Bila Mbak ada waktu, bisakah Mbak berkunjung ke web saya https://iceamericanolover.wordpress.com/ dan melihat beberapa hasil terjemahan saya? Saya ingin sekali diberi masukan dan kritikan dengan hasil terjemahan saya ๐Ÿ™‚

    Maaf ya Mbak jadi panjang dan malah curhat >,<.

    1. Halo, Riefa, maaf baru sempat membalas sekarang

      Menurut saya, segala kegiatan yang berhubungan dengan penerjemahan bisa dimasukkan dalam cv penerjemah. Nanti yang menilai kita cuma main-main atau tidak adalah calon pemberi kerja alias penerbit. Toh, Riefa serius mengerjakannya. Mungkin dalam cv bisa disebutkan bahwa Riefa adalah admin dan editor sebuah blog penerjemahan fanfiksi.

      Yang terpenting, jangan lupa sertakan contoh terjemahan dan teks aslinya saat mengirim lamaran. Itu juga menjadi salah satu acuan penerbit dalam menilai penerjemah. Mungkin untuk contoh bisa Riefa ambil dari terjemahan Riefa di blog itu.

      Siiip, nanti saya kunjungi blognya dan insya Allah akan saya sempatkan memberi komentar. Tetap semangat, Riefa ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s