Picing, Buncah, Hunus… Sudah Tepatkah Penggunaannya?


Saya ingin mengoceh sejenak tentang kata-kata berikut:

John memicingkan mata dan memandang pengacaranya.
Diam-diam hatinya membuncah karena bangga atas keberhasilannya hari itu.
Dia menoleh, menghunus pedangnya ke arahku.

Kata-kata ini lazim muncul dalam buku terjemahan dan sekilas saya mengerti maksud yang disampaikan. Teks asli untuk contoh di atas kira-kira seperti ini:

John squinted and looked at his lawyer.
He was silently bursting with pride at the day’s accomplishments.
She looked across, jerking her sword in my direction.

Tapi cobalah menengok kamus. Ternyata picing memiliki arti pejam, yaitu menutup mata, yang berarti tak sedikit pun memunculkan celah. Sementara buncah lebih tepat diartikan gelisah atau pikiran yang kacau, yang sama sekali tidak mengandung unsur gembira. Untuk hunus ternyata lebih tepat mencabut pedang atau keris (dari sarungnya), alih-alih menghunjamkan atau menusukkannya.

Jangan salah, saya pun pernah memakai ketiga kata di atas dengan arti yang berbeda dari kamus ketika menerjemahkan. Mungkin karena maknanya yang β€œkeliru” sudah begitu diterima pembaca. Tapi sekarang saya khawatir, apakah saya telah salah memberikan informasi? Ataukah ada penjelasan baru untuk ketiga kata ini yang tidak saya ketahui? Bantu saya yang buncah ini.

Advertisements

23 thoughts on “Picing, Buncah, Hunus… Sudah Tepatkah Penggunaannya?

  1. Mbak Lulu, aku pun ingin membuat artikel semacam ini, tentang kata-kata yang selama ini terbiasa kugunakan dan ternyata salah kaprah. Salah satunya ya kata “membuncah” itu. πŸ™‚ Mungkin saking terbiasanya menemukan kata-kata di atas di novel dan cerpen-cerpen ya, saat dicek ke KBBI baru tahu kalau selama ini aku salah kaprah, hehe. Aku pernah baca soal “memicing” itu juga di artikel Mbak Lulu, ya? Berkat itu, sekarang aku pakai padanan “menyipitkan mata” untuk “squint”. Nice article, Mbak, thanks. πŸ™‚

    1. sama-sama, selvi. iya, awalnya gara-gara sering nemu kata-kata semacam itu, tapi pas ngecek kamus kok ga pas artinya. aku jadi takut aku yang salah, jangan2 bahasa sudah berkembang tanpa sepengetahuanku *lebay*. soal artikel “memicing”, bukan aku kayaknya, sel, ga inget soalnya πŸ˜€

  2. Tentang ‘picing’, aku pun baru ngeh belakangan ini, Lul. Jadi untuk konteks mirip di atas, aku pakai ‘menyipitkan mata’. Selebihnya aku baru tahu sekarang. Makasih ya:)

    1. banyak juga kata yg baru ku-ngeh-i *halah, apa pula maksudnya ini* akhir-akhir ini. thx juga, rin, diskusi dengan rini banyak membantu artikelku. πŸ™‚

    1. sama-sama, nui. terutama “buncah”. aku pun masih sering tergoda memakainya untuk sesuatu yang meluap atau menggelora (yah, semacam itulah), padahal ga pas… hehe

      1. ‘Buncah’ itu temuan Mas Agus di editannya. Dari dia juga aku tahu bahwa itu salah, dududu…
        Harus meluangkan waktu lagi untuk benar-benar baca kamus, kayak tokoh ustadz di N5M *bukan iklan*:))

  3. Dulu juga aku salah soal “picing”, kirain sama dengan menyipitkan.

    Hal lain yang dulu aku salah adalah “bidik”. Dulu kusangka artinya “menembakkan”. Ternyata “mengarahkan”, hehehe… sama dengan “aim”.

    Tambahan: suamiku pas lewat dekat komputer. Begitu lihat kata “picing”, ia memejamkan *sebelah* matanya, mirip dengan yang kita lakukan kalau sedang membidik. Mungkin seperti itu ya sebenarnya penggunaan kata “picing” yang benar.

    1. oya, “bidik” juga bisa jadi contoh kasus serupa. aku pun sering salah soal itu *mengaku :p*… btw, soal “picing” pada contoh femmy di atas, jadi ada nuansa dengan “pejam” ya?

  4. huaaa aku juga pernah membuat entry tentang picing. hehe. untungnya sekarang sudah tahu jadi ga akan dipakai lagi. πŸ˜€

    Dan untuk buncah, aku baru tahu malah buncah itu gelisah. Makasih mbak lulu πŸ™‚

    1. waaah, berarti postingan mery yg dimaksudkan dalam komentar selvy di atas… iya, belakangan aku juga berusaha ga memakai lagi kata-kata itu dengan artinya yg kurang pas.
      sama-sama ya, mery πŸ™‚

  5. mengecek kamus memang wajib bagi penerjemah, tetapi memperhatikan penggunaan kata yang sudah umum (konvensi sosial) juga penting. Karena harus diakui KBBI kadang ngaco :p

    1. setuju klo KBBI ga selalu bisa dijadiin acuan. tapi soal konvensi sosial itu aku masih bingung batasannya. misalnya “membuncah”. aku baru menemukannya di novel-novel belakangan ini, apakah itu termasuk konvensi sosial? CMIIW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s